Google Search

Monday, August 3, 2009

Setelah hiatus

Sudah lama juga saya melakukan hiatus terhadap blog ini. Maklum, saya terlalu sibuk dengan blog lainnya. Sempat berpikir untuk melakukan posting untuk blog ini beberapa bulan lalu, tapi selalu saja batal. Kalau mau diposting semua yang sudah terpendam kayaknya semua sudah basi. Tapi tidak berarti sekarang saya kekurangan opini untuk dipostingkan ke dalam blog ini.

Kali ini saya ingin sekali mempostingkan ini. Sudah beberapa hari ini di lingungan saya minyak tanah menghilang dari pasaran. Katanya ini bagian dari program pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah menjadi gas. Mungkin wilayah lain di Indonesia sudah mengalami hal ini, tetapi di Makassar hal ini masih terhitung baru. Ya, program konversi ini telah memasuki kota Makassar. Memang pembagian gas gratis sudah dilakukan juga, tapi keluarga saya masih kuatir dalam menggunakannya. Kondisi kompor yang ikut dibagikan tidak sebagus kompor gas yang ideal, hal ini berarti bila ingin menggunakan kompor ini dengan aman harus membeli kompor yang layak. Lalu badan tabung gas yang agak penyok, meskipun sedikit kecil. Belum lagi dari pihak pemerintah yang melakukan penyuluhan ke rumah saya yang memberitahukan bila kompor gas yang dibagikan tidak bisa dipaka memasak lebih dari 15 menit, karena selang gasnya tidak kuat (terbuat dari karet yang jelek). Karena hal ini kami terpaksa memasak dengan memakai kayu bakar.

Program konversi ini menimbulkan efek terhadap lingkungan (sepertinya tidak usah lagi disebutkan tentang efek rumah meledak dan harga gorengan yang ikut naik). Karena tidak semua orang bisa menggunakan gas, dan ditunjang dengan hilangnya minyak tanah di pasaran, maka pohon dikorbankan untuk menjadi bahan bakar. Jumlahnya akan terus merosot apabila keadaan seperti ini berlanjut. Hal yang cukup mengkuatirkan, mengingat katanya kita akan menghadapi el nino (lagi). Sudah dapat dipastikan kita akan mengalami kekeringan parah.

Menurut saya, sebenarnya kita punya solusi yang lebih baik dan cerdas terhadap bahan bakar ini. Bukankah pernah dicetuskan minyak dari biji jarak? Program yang katanya diurus pemerintah ini akhirnya seperti tidak pernah ada gaungnya saat ini, diganti dengan gembar-gembor keuntungan memakai gas yang lebih baik (katanya). Cadangan SDA kita seperti minyak tanah dan gas alam tidak tahu seberapa lama lagi akan ada. Mungkin saja akan habis dalam hitungan belasan tahun. Jika memakai minyak dari jarak yang praktis dan dapat diperoleh terus terusan, hal ini bukan masalah kecil. Seandainya semua pihak memikirkan ini.

Semoga ilmuwan kita bisa membantu memecahkan masalah ini. Terlebih penting lagi, semoga mereka DIDENGARKAN oleh penguasa, demi kebaikan semua rakyat.

May GOD Always Bless US!

No comments: