Google Search

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, December 26, 2010

AFF dan Anarkisme Kronik

Tak dapat dipungkiri, AFF yang diselenggarakan pada bulan ini telah menyatukan kembali segenap bangsa Indonesia. Dapat dilihat di mana-mana Tim Nasional Indonesia berhasil menjadi pokok pembicaraan, baik di berita maupun di jejaring sosial. Dukungan untuk timnas agar dapat merebut kemenangan semakin hari kian bertambah. Terutama sejak timnas berhasil mengalahkan Malaysia dan sampai kini akan bertemu Malaysia lagi dalam final. Tetapi sayang sekali, meski semangat nasionalisme itu telah berkobar-kobar, penyalurannya tidaklah bagus. Terlihat dari tidak tersalurkannya antusiasme penonton dan suporter yang ingin menonton bola di Gelora Bung Karno.

Adalah suatu keanehan untuk saya melihat bagaimana suporter dengan semangat yang sedemikian besar tidaklah diberikan jalan untuk menyalurkan dukungannya dengan baik. Penjualan tiket menonton yang harganya kian melambung hingga dua kali lipat, ditambah lagi dengan keamatiran pelaksana dalam melakukan penjualan. Dalam penjualannya, panitia melakukan cara yang berbelit-belit. Pertama-tama mengantri untuk mengambil nomor antrian, dan kemudian mengantri untuk mendapatkan karcis, yang nantinya ditukarkan dengan tiket. Sesuatu yang harusnya gampang saja dilakukan dibuat susah dan lama. Penumpukan terjadi dan tiap orang menjadi tidak sabar, ditambah ketidakjelasan dan ketidakdisiplinan dari penyelenggara dalam menjual tiket, telah kembali menimbulkan citra bagi persepakbolaan Indonesia. Namun citra tersebut adalah citra yang memburukkan, bukan hanya untuk persepakbolan, namun juga untuk Indonesia secara keseluruhan.

Sore ini saya kembali melihat betapa buruknya bila sebuah hasrat yang menggebu-gebu tidak tersalurkan dengan benar. Karena tidak ada kejelasan mengenai penjualan tiket dan tidak dibukanya loket, para suporter melakukan tindakan anarkis dan menyerbu masuk ke dalam stadion, merusak pagar dan merebut tiket yang tak kunjung dibagikan. Meski ini adalah tindakan brutal yang tidaklah dibenarkan, namun saya pribadi memahami ini sebagai tindakan yang timbul dari aksi yang sepadan.

Tipikal bangsa Indonesia sebenarnya adalah orang yang sopan, senang mencari jalan damai dalam memcahkan kasus, dan mudah diatur. Dan itu semua akan terwujud sempurna bila kedisiplinan dan hukum ditegakkan secara tegas dan jelas. Bangsa ini sebenarnya bukanlah bangsa anarkis, namun keadaan yang seringkali tidak adil telah mendorong mereka ke batas kesabaran mereka. Seperti halnya pembelian tiket ini. Saat orang yang telah mengantri nyaris sehari penuh, lelah, dan bosan diberi kabar yang menyatakan penjualan dibatalkan atau ditunda lagi, maka kita pasti tahu kemana peristiwa akan terjadi: Anarkisme. Bangsa ini telah lama tertindas, sehingga membuat mereka tidak lagi mau hak-haknya dilanggar. Saat keinginan mereka tidak dipenuhi dengan wajar oleh mereka yang berwenang akan hal itu, maka mereka menuntut. Saat tuntutan tidak didengar, maka mereka berteriak. Dan saat teriakan juga tidak didengarkan, maka mereka berontak. Itulah rantai sebab-akibat di negeri ini.

Sebenarnya mudah untuk mengatasi masalah penjualan tiket final AFF ini. Sangat mudah malah. Namun nampaknya hukum tidak tertulis yang dijalankan oleh mereka yang berwenang adalah hukum yang berbunyi "bila bisa dibuat lebih susah dan lebih menderita lagi, mengapa tidak?" Apabila seorang pembeli tiket langsung dilayani di tempat, maka pastilah tidak akan ada penumpukan. Bukankah Indonesia sudah sering mengadakan konser musik? Mengapa tata laksana penjualan tiket konser musik malah lebih baik daripada tiket AFF kali ini? Mungkin penyebab utamanya adalah tidak adanya pemahaman dan tidak terbukanya panitia dalam mengatur bagaimana sistem penjualan tiket ini. Kerumitan pembelian tiket dan ditambah lagi kurangnya loket membuat banyak pembeli tidak sabar.

Kita berharap saja hal ini tidak akan membawa pengaruh pada performa timnas dalam laga final AFF ini. Dan semoga bangsa ini dan para pemimpinnya tidak terus-terusan menjadi lebih bodoh dari keledai dengan terus-menerus jatuh di lubang yang sama. Semoga saja.

Wednesday, September 22, 2010

Filibuster

Bukan, bukan. Ini bukan nama film baru atau sebuah program komputer. Ini adalah istilah dalam dunia keparlementeran (a. k. a. perpolitikan) di mana seseorang dapat membuat sebuah keputusan batal diambil atau sebuah pemilihan batal dilakukan. Dunia barat telah lama mempraktekkan hal ini dan istilah ini sendiri telah digunakan sejak tahun 1851. Menurut artikel dari Wikipedia, asal muasal nama filibuster berasal dari bahasa Spanyol filibustero yang artinya "perompak". Istilah ini diadaptasi ke dalam beberapa bahasa lain seperti dalam bahasa Perancis dan Belanda. 
 
Sekarang sejarahnya selesai di sini. Mengapa filibuster menjadi istimewa? Filibuster adalah proses untuk menghentikan sesuatu kebijakan dari menjadi sah dengan mencegahnya menjadi sah sejak awal. Filibuster dapat dilakukan secara perseorangan. Inti dari filibuster adalah melakukan debat secara berkelanjutan tanpa henti. Seorang anggota parlemen melakukan penundaan dengan melakukan debat berkepanjangan sehingga sebuah keputusan atau kebijakan tidak menjadi final. Sisi positif dari taktik ulur waktu ini adalah apabila argumentasi yang diberikan berhasil menarik perhatian dari quorum yang ada, maka dapat terjadi peninjauan ulang atas kebijakan atau keputusan yang akan dibuat. Ini tepat sekali apabila ada keputusan atau kebijakan yang kemungkinan dapat menyengsarakan rakyat akan disahkan oleh parlemen. Sisi negatifnya adalah karena hal ini adalah taktik untuk menunda, maka akan merugikan waktu dari senat atau angota parlementer, terutama ketua parlementer. Juga bila keputusan yang ditunda itu sebenarnya hal yang sebenarnya baik untuk masyarakat.
 
Filibuster sebenarnya merupakan perwujudan demokrasi, di mana seorang anggota parlemen berhak untuk berbicara selama mungkin dalam mengajukan pendapatnya. Di negara adidaya Amerika, filibuster dapat dilakukan selama mungkin oleh seseorang selama orang tersebut tetap berdiri dan terus berbicara. Keputusan apapun tidak akan dibuat sampai filibuster selesai, di mana kondisinya adalah jika pelaku filibuster ini tidak berdiri dan berbicara lagi atau sekitar 60% anggota parlemen bersepakat menghentikannya.
 
Jika di Indonesia, apakah filibuster ini berlaku? Saya rasa tidak. Kita memegang prinsip musyawarah, dan demikian dimungkinkan adanya lobi. Dengan lobi, terjadi persepakatan sehingga filibuster tidak terjadi. Selain itu sepertinya tidak ada peraturan yang memungkinkan terjadinya debat berkepanjangan dalam parlemen kita. Padahal bila ada filibuster, maka kasus Century tempo hari pasti makin ramai. Hehehehe...
 
Dari pengalaman saya, di kampus saya ada yang serupa dengan filibuster ini. Saat kepanitiaan acara-acara besar kadang ada sekelompok orang yang melakukan debat berkepanjangan mempermasalahkan segala sesuatu yang kadang tidak penting (meski tidak dalam keadaan berdiri dan terus menerus). Namun tetap saja menghambat pemutusan masalah krusial yang seharusnya selesai dengan segera.
 
Jadi pilih mana: Suka ada filibuster di Indonesia dengan segala untung ruginya atau tidak suka? 

Friday, August 20, 2010

Elegi Negeri Serumpun: Api Dalam Sekam

Minggu ini dibuka dengan kasus baru dari negeri tetangga yang mengakunya serumpun dengan kita. Kali ini masalah di perbatasan laut lepas pantai Kalimantan. Kejadian yang dimulai dari penahanan kapal patroli laut Indonesia yang menangkap pencuri ikan di perairan tersebut kini terus bergulir menjadi masalah serius. Ditinjau dari sudut pandang kedaulatan, hal ini nyata-nyata salah. Terlepas terdapat bukti akan hal itu atau tidak. Kapal yang mencuri ikan di perairan Indonesia entah atas alasan apa diambil kembali oleh pihak Malaysia. Berikutnya kapal patroli yang menangkap ABK kapal tersebut diangkut paksa ke Malaysia. Alasannya? Tidak pasti. ABK kapal yang mencuri ikan di perairan Indonesia mengaku bahwa mereka terseret arus. Jika demikian, mengapa dengan segera muncul dua kapal dari Malaysia yang membebaskan mereka? Ditambah lagi menyerang kapal patroli Indonesia dan nyata-nyata menculik anggota patroli di kapal tersebut.

Jika diumpamakan, kejadian ini sama seperti pencuri mangga yang menangkap anak tuan rumah yang mempunyai mangga tersebut. Pencuri yang menangkap pemilik rumah. Pelanggaran batas wilayah adal;ah hal yang serius. Sedangkan di masyarakat sendiri, jika patok tanah dipindahkan seinchi saja bisa terjadi pertumpahan darah. Apalagi kalau batas negara? Jika alasannya adalah terbawa arus, toh setelah ditanyai sebentar akan dilepaskan. Kecuali bila di dalam kapal terdapat ikan dalam jumlah besar dan tidak dapat menunjukkan surat-surat yang jelas. Itu beda cerita. Jadi apakah Malaysia melindungi warganya yang mencuri ikan di Indonesia? Itu sebuah pertanyaan yang sepertinya hanya bisa dijawab oleh pemerintahan mereka. 

Saya membayangkan apa jadinya bila rasa nasionalisme rakyat Indonesia di bulan Agustus ini tiba-tiba terlalu membara. Jika segenap rakyat Indonesia menjadi tidak sabar melihat kejadian ini, ditambah lemahnya diplomasi yang dirasakan oleh masyarakat, bisa jadi keberadaan bangsa Malaysia yang berada di Indonesia dengan tujuan apapun menjadi terancam. Bisa jadi semua orang Indonesia di Malaysia juga dipulangkan. Meski saya agak sangsi akan hal ini, mengingat yang memutar perekonomian di sana sebagian besar tenaga kerja kita juga (yang ironisnya sebagian besar ilegal).

Pemerintah memang telah melakukan diplomasi, dan sebagai hasilnya petugas yang ditangkap telah dipulangkan. Tetapi ini disertai dengan pertukaran 7 orang ABK yang ditahan dari kapal Malaysia. Bagi sebagian orang Indonesia, ini tidak memenuhi rasa keadilan mereka. Status 7 ABK tersebut adalah tersangka pencurian ikan. Selain itu, sebenarnya tidak ada alasan Malaysia menangkap petugas patroli Indonesia di wilayah yuridiksinya. Jadi sebenarnya tidak ada pertukaran. Seharusnya Malaysia membebaskan mereka dengan sukarela. Namun nampaknya pemerintah memikirkan juga nasib warga Indonesia di sana dan warga Malaysia di sini. Jika terjadi peperangan, akan ada pihak yang dirugikan. Meski warga Indonesia sebagian besar tidak akan peduli akan hal ini.

Kejadian ini terjadi beberapa hari sebelum peringatan Proklamasi? Kalau mau mengembangkan teori konspirasi, maka bisa saja ini dianggap sebagai provokasi. Dan karena kejadian ini terjadi menjelang bulan Ramadhan, mungkin mereka menjadi berani dengan anggapan rakyat Indonesia tidak akan terlalu tersulut emosinya karena hal ini. juka demikian, maka kita sukses dihina oleh mereka! tapi toh ini cuma teori konspirasi yang sebenarnya tidak bisa dipengang karena buktinya tidak kuat. Cuma perandaian.

Saya memikirkan apa yuang terjadi pada dubes Malaysia di Indonesia bila beliau tidak 'mengungsikan diri' saat kasus ini muncul. Mungkin akan terjadi kasus 'penyanderaan' seperti dahulu saat kita bermasalah dengan Malaysia berkaitan dengan reog. Tapi mungkin lebih parah. Untung beliau berhasil menyelamatkan diri, kalau tidak yaaaaa gitu deh. Hehehehehehehe....

Lalu sebagai warga Indonesia, apa yang harus kita lakukan? Kalau saya, saya akan bersuara seperti ini. Berharap ada yang membaca suara ini. Selebihnya kita hanya bisa berdoa. Apabila memang mereka yang mencari masalah, maka mereka yang akan menanggung kesalahan mereka sendiri. Toh TUHAN masih ada di atas sana. 

Tapi kasihan juga kalau dipikir. Bangsa 'serumpun' seperti Malaysia ternyata mencuri ikan juga. Begitu inginnya makan ikan sampai harus mencuri. Berarti mereka miskin mungkin, ya? Lalu apa mereka tidak merasa melanggar hukum agama, ya? Yah, kita tunggu saja nanti. Orang jahat pasti kalah. Kalau bukan manusia yang kalahkan, TUHAN sendiri yang akan kalahkan.

Friday, August 13, 2010

Sensor Situs di Indonesia Masih Lemah (?)

Minggu ini Publik dihebohkan dengan rencana pemerintah untuk menyensor 4 jutaan situs internet yang tidak sesuai dengan kaidah agama, kesusilaan, dan membahayakan keamanan pengguna jasa layanan internet. Dan kali ini saya akui pemerintah bergerak cukup cepat. dengan mengerahkan sejumalah ahli jaringan, dan didukung oleh kerja sama dengan penyedia ISP, beberapa situs 'gelap' yang cukup terkenal telah terbukti tersensor. Dengan demikian, selama masih di Indonesia, seseorang tidak akan dapat mengakses situs-situs tersebut. Namun apakah sensor situs ini telah berjalan sempurna?

Sejak awal mendengar rencana ini, saya merasa ada sedikit kelemahan dalam sistem sensor situs di Indonesia. Pengguna hanya tidak dapat mengakses situs yang telah tersensor apabila ISP lokal mengkategorikannya sebagai situs terlarang. Setengah mati sampai jungkir balik juga tidak akan bisa masuk-masuk. Pengkategorian ini sangat bergantung pada peran serta masyarakat. Beragam istilah 'terlarang' dari beragam bahasa dan dialek harus dikumpulkan, selain alamat situsnya secara langsung. Jadi kesuksesan dari rencana ini sebagian besar di tangan pengguna juga. Jika penggunanya sudah tobat, sih, mudah-mudah saja untuk menjalankan rencana ini. Tapi kadang ada saja orang yang suka hal yang 'terlarang', maka mereka mungkin akan sengaja tidak memberi masukan. Meski ini juga tidak menggambarkan karakter pengguna internet Indonesia secara umum. Toh masih ada juga orang yang turut membantu.

Masalah kedua yang dapat saja terjadi adalah penyebaran data atau file bermuatan 'terlarang' tidak melalui situs biasa. Penyebaran ini dapat saja terjadi melalui pengiriman langsung ke e-mail baik berupa file  maupun link menuju situs tertentu yang belum masuk dalam daftar blacklist. Selain itu, mungkin juga penyebaran barang-barang tersebut menggunakan kata kunci baru yang hanya diketahui oleh komunitas tertentu, sehingga tidak masuk dalam database situs yang disensor. Mungkin juga penyebarannya melalui forum-forum di internet. Menurut saya, karena sifatnya agak luas dan bebas, forum agak susah diblok. Bisa saja forumnya merupakan forum yang memegang teguh prinsip kebebasan. Penggunanya menggunakan kata-kata bertema 'terlarang', namun disensor beberapa hurufnya. Manusia masih bisa mengerti, namun browser tidak akan menggolongkannya sebagai sesuatu yang harus disensor. Untuk mengatasi ini sepertinya pemerintah harus membuat kesepakatan dengan pembuat forumnya agar melakukan ban pada topik 'terlarang'. Namun dengan mengingat kegemaran orang Indonesia untuk berbicara di forum-forum dan ditambah dengan banyaknya jumlah forum lokal Indonesia di internet, hal ini nampaknya agak menyulitkan juga.

Masalah ketiga adalah penggunaan proxy site. Ya, proxy, seperti yang disebut dalam lagunya Saykoji. Orang Indonesia yang cukup sadar internet pasti tahu kata ini. Proxy site bisa dikatakan sebagai jasa peminjaman gerbang untuk menembus batas yang tidak dapat ditembus. Dengan memakai gerbang ini, batasan negara ataupun legalitas tidak ada lagi. Apalagi beberapa proxy site juga menawarkan alamat ISP luar negeri. Karena sensor situs hanya memakai dasar alamat ISP lokal, maka otomatis sensor ini menjadi tidak berguna bila penggunanya menggunakan proxy site + alamat ISP asing.  Kelemahan situs-situs proxy yang sangat berlimpah di internet adalah keamanannya yang lebih tidak stabil dibandingkan mengakses langsung. Sangat rawan terjadi intervensi dari hacker sementara memasukkan atau mengambil data dan informasi. Juga ditambah kemungkinan masuknya tamu tak diundang ke dalam komputer penggunanya. Apakah pemerintah juga harus melakukan sensor terhadap situs-situs proxy? Nampaknya ini agak sulit, karena situs-situs proxy sebenarnya merupakan situs netral. Apakah akan menjadi negatif atau positif itu tergantung penggunanya.

Usaha yang dilakukan oleh pemerintah telah baik. Namun keberhasilannya sendiri sebenarnya kembali pada keinginan dari pengguna internet sendiri. Internet merupakan sumber daya yang sangat besar dan bersifat sosial. Nyaris sulit mengatur segala sesuatunya di dalam internet, apalagi dengan hukum legal seperti yang direncanakan oleh pemerintah. Jika tertutup satu jalan, para pengguna internet pasti dapat menemukan jalan lain. Maka dari itu, kesadaran sendirilah yang menjadi senjata terampuh dalam menyukseskan sensor situs ini. Selamat ber-surfing ria hari ini! Ingat, jaga keselamatan Anda :P

Wednesday, February 24, 2010

Poker?!

Facebook tidak pelak lagi adalah sebuah fenomena di dunia cyber dekade ini. Dengan kefleksibelannya, situs ini telah berhasil "menendang" beberapa situs ternama di dalam hal kepopuleran. Situs ini juga berhasil mengantarkan pemiliknya menjadi seorang multimilyuner di Amerika sana.

Di antara beragam fitur di Facebook ini, salah satu yang digemari banyak orang adalah aplikasinya. Saya pribadi juga merupakan penggemar aplikasi Facebook, terutama game ;-). Meski beberapa game memiliki fitur berbayar, namun hal ini tidak banyak mengganggu kenikmatan bermain karena hal tersebut adalah pilihan. Saya sendiri lebih suka gratisan (maklum, orang Indonesia :-P).

Kalau berbicara game di fB, pasti sebagian akan menyebut Texas HoldEm Poker dari Zynga.inc sebagai game yang sering mereka mainkan. Banyak orang (termasuk saya) di Indonesia yang memainkan game tipe gamble ini, bahkan mencari uang dengan menggunakan game ini. Bagaimana tidak, karena banyaknya peminat game ini, kebutuhan chip untuk bermain juga meningkat. Dan menurut hukum ekonomi, di mana ada permintaan di situ ada penawaran. Lahirlah para penjual chip untuk orang-orang yang sering sekali kalah dalam pertaruhan. Meski ilegal, hal ini menjadi sebuah kebiasaan di sekitar kita (setidaknya di sekitar saya).

Ada kebiasaan yang sering sekali ditunjukkan oleh para pemain game Poker ini. Kalau menang akan berteriak sekeras-kerasnya tanpa peduli tempatnya. Kalau kalah akan mengumpat (Kalau kalahnya besar naik tingkat jadi sumpah serapah) kekalahannya dan orang yang mengalahkan. Saya tidak termasuk ;-P. Sepertinya banyak yang pernah mengalaminya saat ber-online ria di warnet. Untuk mengekspresikan diri sih tidak masalah, tapi kalau kelebihan seperti berteriak bahkan mengumpat sepertinya terlalu berlebihan. Apa memang orang Indonesia kurang bisa mengendalikan emosi di dalam bermain di dunia maya ini? Padahal ini hanya sebuah mainan di dunia yang tidak nyata. Apakah karena mereka merasa rugi akibat chip yang digunakan itu dibeli dengan uang di dunia nyata? Siapa yang tahu. Padahal game ini dirancang untuk dimainkan dengan pelan-pelan, tapi sepertinya banyak yang tidak sabaran, ya. Padahal kalau menunggu beberapa hari, tetap bisa bermain dengan baik juga. Santai sajalah.

Sebenarnya 'fenomena' seperti ini bukan baru kali ini saja. Sudah pernah ada (banyak sekali) online game lain di Indonesia yang pemainnya juga menunjukkan perilaku seperti ini. Dan semuanya sama, memberikan rasa kurang nyaman untuk pengguna lainnya. Apa boleh buat, ini warnet, sih.

Sorry buat para pemain online game dan Poker, ya. Tapi ini nyatanya. Anggap ini cuma unek-unek biasa saja. kalau ada yang nyadar sih syukur ;-P.

Monday, August 31, 2009

Dilema Negara Serumpun

Di tengah-tengah memanasnya hubungan Malaysia dengan negara kita tercinta, saya mendapatkan diri terlibat secara emosional dengan rasa patriotisme yang membara dan berkobar dalam diri. Sedikit kesal (sebagian besar sisanya marah), bercampur dengan sedikit rasa kasihan. Sebagai warga negara yang terlahir di Indonesia dan memegang KTP negara ini, saya merasa memiliki kebanggaan dan rasa hormat terhadap apapun yang dimiliki bangsa kita. Meski saya mengakui saya juga sering dibuat jenuh, muak dan marah pada semua koruptor, sebuah wajah jelek dari bangsa kita. Juga pada aparat pemerintahan (tidak semuanya) yang memiliki sifat preman (tukang palak dan gebuk). Saya merasa mereka semua bukan orang Indonesia, karena mereka dengan enaknya merusak bangsa sendiri.

Dalam beberapa minggu ini media berita sangat rajin menggali dan memoles berita yang mereka tayangkan, terutama kasus pengambilan kebudayaan kita yang deingan tegas diakui oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai saudara serumpun kita. Sakit juga mendengar bahwa ada lebih dari belasan kebudayaan kita yang diakui oleh mereka. Seperti ditusuk dengan belati beracun dari belakang oleh orang yang kita sebut sebagai keluarga. Dengan entengnya pula. Saya sampai bertanya-tanya, apa artinya kata persaudaraan serumpun di sini? Seharusnya kita saling membangun, namun adanya hubungan yang terjadi adalah parasitisme.

MENGAKUI MILIK BANGSA LAIN SEBAGAI HASIL DARI KEBUDAYAAN LELUHUR SENDIRI MERUPAKAN TINDAKAN YANG MERUGIKAN! SANGAT MERUGIKAN!!

Jika Malaysia mengakui milik bangsa Indonesia sebagai milik leluhurnya, maka secara logika kita dapat menyebut mereka sebagai bagian bangsa kita sendiri, Indonesia. Bukan sebagi sebuah negara yang disebut-sebut sebagai Malaysia. Pernyataan mereka yang menganggap milik bangsa kita sebagai milik leluhurnya ini adalah seakan-akan pernyataan mereka mengakui kedaulatan kita dan patuh taat sebagai bagian dari kita, dalam artian penggabungan bangsa dengan MENGHILANGKAN KEDAULATAN SENDIRI. Meskipun mereka mengakui hal ini adalah sah-sah saja, toh ada bangsa Indonesia yang telah berpindah menjadi bangsa Malaysia, sehingga apapun yang mereka miliki adalah milik kerajaan pula. Ini adalah sebuah kerugian untuk mereka.

Kerugian lainnya adalah rusaknya hubungan diplomatik dua negara. Pengakuan Malaysia yang menyebut asal kebudayaan yang mereka caplok hanya dengan nama wilayah tanpa embel-embel Indonesia dapat dianggap penghinaan pada kedaulatan bangsa Indonesia. Berarti mereka tidak mengakui kedaulatan bangsa Indonesia, negara kita dan orang-orangnya. Maka dari itulah mungkin mereka seringkali melihat bangsa kita dengan cara rendah, seperti yang mereka lakukan pada TKI di sana.

Sedih juga, mengingat sebuah bangsa seharusnya memiliki sebuah kebudayaannya sendiri, yang lahir dari hasil interaksi komunitas-komunitasnya dengan alam di sekitarnya. Bukan hanya mencuri 100 % dari bangsa lain. Terinspirasi boleh, mencuri tidak!

Dengar-dengar katanya mereka bahkan menyebut kita perampok, entah apa alasannya saya tidak tahu pasti. Aneh.

Semoga tidak terjadi perang antarbangsa, karena hal itu adalah hal yang paling buruk dari penyelesaian suatu masalah.

Semoga patriotisme kita terus menggelora dan selalu dikawal dengan logika yang benar dan niat yang baik. Sekian.