Rashomon, itulah nama buku yang saya baca beberapa bulan lalu. Buku karangan Akutagawa Ryuunosuke (yang namanya menjadi cilkalbakal Akutagawa Awards di Jepang), berisi kumpulan cerita-cerita pendek yang terkenal darinya, termasuk Rashomon dan Di Bawah Belukar (judul yang terakhir kalau tidak salah pernah dibuat menjadi film berjudul "Rashomon"). Selain itu terdapat pula novelet buatan Akutagawa di tahun terakhir hidupnya (dia meninggal bunuh diri karena depresi berat).
Membaca buku Rashomon terbitan KPG serasa menyelami kejiwaan dan perasaan sang penulisnya. Ada suatu keunikan dalam cara menulis Akutagawa yang kalau dibandingkan dengan cara menulis pengarang Indonesia cukup aneh. Akutagawa senang dengan topik-topik dan tema-tema yang tidak lazim. Menurut resensi bukunya, Akutagawa sering mengambil tema yang sedikit nyeleneh dan di luar kebiasaan pengarang di zamannya, seperti hantu dan binatang mitologi. Dari yang saya baca, beberapa cerita yang disampaikan olehya mengisahkan keadaan Jepang di masa hidupnya.
Yang paling terasa adalah pada novelet Kappa. Pada novelet yang cukup panjang ini, Akutagawa menceritakan keadaan Jepang yang dilihatnya dalam bentuk dunia Kappa dan seorang pemuda yang terjatuh (dan pada akhirnya gila saat kembali ke dunianya) ke dalam dunia itu. Sang pemuda itu adalah penggambaran sang pengarang. Setidaknya hali itulah yang saya rasakan saat membaca pengalamannya. Keadaan yang terjadi dalam dunia para Kappa dan masyarakanya adalah gambara Jepang di era 30-an yang diekstrimkan, ciri khas dari Akutagawa sendiri.
Meskipun cukup melelahkan membaca novelet itu, tapi saya bisa menangkap makna dan apa yang ingin disampaikan oleh sang pengarang. sayangnya Akutagawa pada tahun itu juga membunuh dirinya sendiri karena mengidap schizophrenia akut sejak beberapa tahun sebelumnya. Dia selalu merasa segala sesuatu yang dilakukannya seakan diatur oleh sesuatu. Sayang sekali, mungkin Akutagawa tidak memahami dan mengenal kekuatan Omnipotent yang disembah itu, TUHAN. Mungkin saja bila dia mengenal konsep ini, dan menerimanya, beban kegilaan yang diidapnya karena pengaruh pemikirannya sendiri yang merasa dunia tempat tinggalnya sendiri sangat buruk dapat berkurang atau bahkan hilang.
Akutagawa Ryuunosuke. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya tetaplah seorang pengarang yang hebat yang dimiliki Jepang. Karya-karyanya cukup menggelitik ranah filosofis dari pembacanya. Jika Anda tertarik dengan karya sastra terjemahan dari Jepang, mungkin judul ini dapat memuaskan sedikit hasrat Anda.
May GOD Bless Us!
No comments:
Post a Comment