Hari ini siswa-siswi SMA di Indonesia telah menunaikan tugas terakhir mereka. Tugas itu adalah Ujian Akhir Nasional yang menentukan kelulusan mereka dari SMA. Jika ereka lulus, maka mereka telah menyelesaikan jenjang pendidikan standar mereka. Selanjutnya apakah mereka mau langsung bekerja ataukah melanjutkan ke universitas atau mingkin langsung kawin :) adalah pilihan yang dapat mereka pilih selanjutnya. Saya pun pernah menjadi siswa SMA, dan saya tahu bagaimana gembiranya melewati ujian tersebut. Dan (meskipun saya tidak pernah mengikutinya) seperti 'tradisi' para pendahulu mereka yang sudah-sudah, mereka mengapresiasikan kegembiraan mereka dengan mencorat-coret baju mereka. Mungkin itu adalah unkapan perasaan yang menyatakan mereka telah bebas dari segala kedisiplinan yang mengikat mereka, sesuatu yang tidak mereka sukai. Toh, baju itu takkan digunakan lagi. Tapi apakah benar demikian?
Tahun ini syarat kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah cukup menyulutkan para siswa dan siswi di seluruh Indonesia. Dengar-dengar nilai kelulusan yang ditetapkan pemerintah adalah 5,2 (kalau tidak salah) atau 4,5, saya pun kurang mengetaui jelas. Kalau di zaman saya dulu (tahun 2005-2006), nilai kelulusan (kalau tidak salah, ya) 3,65. Sudah dua tahun yang lalu, segala hal merepotkan begitu telah saya lupakan. Dengan keadaan yang demikian, para siswa-siswi akan menghadapi kesulitan karena mereka harus menjaga agar nilai mereka tidak di bawah standar. Yah, mereka harus mendapat nilai di atas rata-rata, jika tidak mereka tidak lulus. Dan hal tersebut terjadi pula di zaman saya masih siswa SMU dulu. Banyak siswa-siswi yang telah meluapkan emosi mereka dengan mencoret-coret bau mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak lulus. Dapat dibayangkan kekecewaan mereka. Dan tidak ada sistem pengulangan Ujian Akhir Nasional. Solusinya adalah mengikuti ujian tahun depan, mengulang setahun di kelas 3 (sekarang XII), atau mengikuti KEJAR Paket C (Kelompok Belajar Paket C, sebuah sistem persamaan di Indonesia dimana ijazah yang diterima setara dengan ijazah SMA). Pilihan manapun itu sangat tidak menyenangkan. Di satu sisi, mereka yang gagal akan malu karena tidak dapat melanjutkan pendidikan bersama kawan-kawan mereka dan juga harus mengulang dengan para junior mereka. Di sisi lain, mereka yang telah melakukan perayaan 'kemerdekaan' dari SMA akan merasakan kegalauan, ketidakmampuan, dan kesia-siaan.
Perayaan yang dilakukan oleh para siswa yang dilakukan oleh siswa-siswi SMA saat ini saya pikir terlalu dini. Dahulu perayaan ini dilakukan kala pengumuman telah keluar. Sekarang, entah karena percaya diri akan lulus ataukah karena tidak sabar merayakan, 'ritual' ini dipercepat jadwalnya. Parahnya lagi, 'ritual' ini ditambah lagi dengan konvoi berkeliling kota. Dahulu yang seperti ini (sebelum zama saya dulu) tidak pernah ada. Apakah ini dipengaruhi juga dengan makin banyaknya siswa-siswi SMU yang memiliki motor, ya? Konvoi ini terkadang menimbulkan masalah. Selain memacetkan jalan, mereka juga membuat kebisingan yang mengganggu pengguna jalan yang lain. Dan mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan hal itu.
Mereka mungkin bisa merayakan kelulusan mereka denga meriah, seolah-olah menikmati masa muda yang akan berakhir. Namun jika mereka tidak siap kembali ke dalam masyarakat, mereka akan menghadapi masalah di kemudian hari. Pilihan berikut yang menunggu mereka dalam kehidupan di masa depan mereka telah menyongsong: bekerja, mencari pendidikan lanjutan, atau menganggur. Semoga saja mereka tidak memilih yang terakhir, dan semoga keadaan tidak mendorong mereka ke arah sana.
May GOD Bless Us!
No comments:
Post a Comment